DATA FASILITAS ICT SMA N 3 SAROLANGUN TH.2010 S/D 2012
|
no
|
tahun
|
Nama peralatan
|
jumlah
|
Kondisi
|
|
|
Baik (jumlah)
|
Tidak baik(jumlah)
|
||||
|
1.
|
2010
|
1.komputer
2.
LCD
3.Note
book
|
20 bh
5 bh
4 bh
|
20 bh
5 bh
4 bh
|
-
-
-
|
|
2.
|
2011
|
1. Komputer
2. LCD
3. Note
Book
|
20 bh
5 bh
4 bh
|
8 bh
3 bh
4 bh
|
12 bh
2 bh
-
|
|
3.
|
2012
|
1. Komputer
2. LCD
3. Note
Book
|
20 bh
5 bh
4 bh
|
6 bh
1 bh
3 bh
|
18 bh
4 bh
1 bh
|
DATA GURU YANG MENGGUNAKAN LCD DAN NOTE
BOOK DALAM PEMBELAJARAN th.2010 s/d 2012
|
No
|
Tahun
|
Jumlah guru yang pernah menggunakan
LCD
|
Jenis kegiatan
|
Keterangan
|
|
1.
|
2010
|
5 orang
|
Pbm
|
|
|
2.
|
2011
|
3 orang
|
Pbm
|
|
|
3.
|
2012
|
2 orang
|
Pbm
|
|
JENIS KEGIATAN YANG DILAKUKAN
BERHUBUNGAN DENGAN I.C.T
|
No
|
Tahun
|
Jenis kegiatan
|
Tingkat
|
Waktu pelaksanaan
|
|
1.
|
2010
|
Workshop ICT
|
Sekolah
|
Mei 2010
|
|
2.
|
2011
|
-
|
|
|
|
3.
|
2012
|
-
|
|
|
GURU YANG MENGAJAR T.I.K
|
No
|
Tahun
|
Latar belakang pendidikan
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1.
|
2010
|
Sarjana Komputer , Sarjana Komputer
|
2 orang
|
|
|
2.
|
2011
|
Sarjana Komputer, Sarjana Matematika
|
2 orang
|
|
|
3.
|
2012
|
Sarjana Matematika, Sarjana Geografi
|
2 orang
|
|
.
Sasaran Program
Kepala Sekolah dan Para Guru serta dengan persetujuan Komite Sekolah
menetapkan sasaran program, baik untuk
jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Sasaran program dimaksudkan
untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.
Sasaran Program Sekolah
|
SASARAN PROGRAM 1 TAHUN
( 2011 / 2012 )
(Program Jangka Pendek) |
SASARAN PROGRAM 4 TAHUN
( 2011 / 2015 )
(Program Jangka Menengah) |
SASARAN PROGRAM 8 TAHUN
( 2011 / 2019 )
(Program Jangka Panjang) |
|
1.
Kehadiran Peserta didik, Guru dan Karyawan lebih dari
95%.
|
1. Kehadiran Peserta didik, Guru dan Karyawan lebih dari 97%.
|
1. Kehadiran Peserta didik, Guru dan Karyawan lebih dari 98 %.
|
|
2.
Target pencapaian rata-rata Nilai Ujian Akhir 6,0.
|
2. Target pencapaian rata-rata NUAN lulusan7,0.
|
2. Target pencapaian rata-rata NUAN lulusan 8,0.
|
|
3.
10 % lulusan dapat diterima di PTN, baik melalui jalur
PMDK maupun UMPTN.
|
3. 20 % lulusan dapat diterima di PTN baik melalui jalur PMDK maupun
UMPTN.
|
3. 50 % lulusan dapat diterima di PTN baik melalui jalur PMDK maupun
UMPTN.
|
|
4.
50% peserta didik yang beragama Islam dapat membaca
Al-Qur’an dengan baik dan benar.
|
4. 80% peserta didik yang beragama Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan
baik dan benar.
|
4. 80% peserta didik yang beragama Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan
baik dan benar.
|
|
5.
Memiliki ekstra kurikuler
unggulan (KIR & Olah Raga )
|
5. Extra kurikuler unggulan dapat menjuarai tingkat provinsi
|
5. Ekstrakurikuler unggulan dapat meraih prestasi tinggkat nasional
|
|
6.
25 % peserta didik dapat
aktif berbahasa Inggris.
|
6. 40 % peserta didik dapat aktif
berbahasa Inggris.
|
6. 60 % peserta didik dapat aktif
berbahasa Inggris.
|
|
7.
70 % peserta didik dapat
mengoperasikan mengoperasikan program Ms Word dan Ms Excel
|
7. 75 % peserta didik dapat mengoperasikan 2 program komputer (Microsoft Word , Excel, Power point dan
Internet).
|
7. 100 % peserta didik dapat mengoperasikan 2 program komputer (Microsoft Word, Excel, Power point dan
Internet).
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Undang-Undang
No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3 berbunyi “Pendidikan
Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan
bertanggung jawab”. Untukmencapai tujuan tersebut tidaklah mudah karena
tantangan yang lebih besar dengan adanya arus globalisasi di segala bidang
kehidupan. Globalisasi sebagai dampak dari revolusi teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) mengakibatkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan.
Perubahan yang paling cepat dirasakan adalah perubahan ekonomi dan pengetahuan.
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat digunakan dalam berbagai
disiplin Ilmu, termasuk di dunia pendidikan. Perkembangan pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan saat ini sudah tidak bisa
ditawar lagi karena telah menyatu dengan perkembangan setiap aktivitas
kehidupan, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Demikian halnya guru
sebagai tenaga profesional, harus mampu mengimbangi laju perubahan tersebut.
Sikap yang harus direfleksikan oleh guru di antaranya melalui apresiasi,
inovasi, dan kreasi untuk memanfaatkan TIK seperti yang dinyatakan dalam
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
kompetensi Guru. (sumber : Juknis dir.pendd menengah).
Berdasarkan
hasil pengamatan penulis dalam keterlaksanaan penerapan I.C.T di SMA N 3 Sarolangun,
ditemukan bahwa pemanfaatan I.C.T (baik hardware maupun software)
oleh guru masih amat terbatas. I.C.T
lebih banyak dimanfaatkan terbatas pada fungsi administratif. Pemanfaatannya
sebagai media atau alat bantu pembelajaran,sumber belajar dan penilaian masih belum tereksplorasi secara
mendalam, apalagi pemanfaatan berbagai fasilitas dan aplikasi yang ada.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah
ini adalah :
1. Apa masalah yang dihadapi dalam
penerapan ICT di SMA N 3 Sarolangun.?
2. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi pemanfaatan ( analisa kebutuhan ) ICT di SMA N 3 Sarolangun.?
3. Apa solusi yang dapat ditawarkan
untuk memberdayakan ICT dalam meningkatkan kompetensi guru di SMA N 3
Sarolangun.?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Permasalahan yang dihadapi dalam
penerapan I.C.T
Pada kenyataanya saat ini masih
banyak ditemukan masalah- masalah ketika menerapkan ICT dalam pembelajaran.
Permasalahan tersebut berasal dari lembaga pendidikan yang bersangkutan, guru
sebagai pendidik, dan siswa sebagai peserta didik. Permasalahan yang timbul
dari lembaga pendidikan biasanya lebih dipengaruhi oleh factor-faktor seperti
infrastruktur yang dimiliki dan sumber dana yang memadai sebagai factor utama
agar lembaga pendidikan dapat menyelenggarakan pendidikan berbasis ICT. Kedua,
guru sebagai pendidik tidak jarang menemui kesulitan dalam penguasaan ICT.
Memang patut dimaklumi ketika para guru tersebut sekolah, pada saat itu ICT
belum berkembang seperti sekarang dan
mereka pun tidak ada pelajaran ICT di sekolahnya. Sehingga tidak sedikit juga
dari para guru tersebut yang kurang tertarik untuk mempelajari maupun
menggunakan ICT dalam kegiatan belajar mengajar. Karena merasa tidak bisa dan
malu sehingga tidak ada kemauan dan keinginan untuk belajar. Kejadian seperti
ini biasanya terjadi kepada guru-guru senior. Selanjutnya, permasalahan yang
timbul dari peserta didik biasanya berasal dari latarbelakang siswa itu
sendiri. Seperti belum mengenal komputer, belum pernah menggunakan komputer dan
internet. Kemudian,apabila suatu sekolah sudah menerapkan program dimana setiap
siswa harus memiliki laptop ( dewasa ini laptop/notebook lebih sering digunakan
sebagai media pembelajaran dikelas karena lebih efisien), terkadang bagi siswa
yang ekonominya kurang, mereka belum bisa untuk memenuhi hal tersebut
B.
Faktor-faktor yang mepengaruhi
perkembangan I.C.T ( analisa
kebutuhan )di SMA N 3 Sarolangun
1.
Kebutuhan TIK untuk Administrasi
Sekolah
Administrasi sangat diperlukan bagi kelangsungan
proses pembelajaran di sekolah. Dalam era kemajuan Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK) saat ini, sekolah dituntut untuk dapat memberikan
pelayanan yang cepat, mudah, dan terbaik baik siswa, guru, orang tua maupun
pemangku kepentingan pendidikan lainnya. Orang sering
menganggap enteng persoalan administrasi tersebut, padahal kalau administrasi
tidak didukung oleh pemanfaatan TIK dan tidak dikelola oleh
orang-orang yang terampil maka administrasi tersebut akan tidak berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Orang yang memegang administrasi hendaknya adalah
orang yang sudah terlatih dalam bidangnya (orang yang sudah mendapat ilmu/
pelatihan). Administrasi tidak hanya dalam hal keuangan saja
tetapi juga dalam kerapian/keteraturan kita dalam pembukuan. Administrasi tidak
hanya dilakukan dalam waktu tertentu saja tetapi setiap hari secara sistematis.
Keberhasilan pendidikan di sekolah harus ditunjang
oleh pelayanan administrasi sekolah yang teratur, terarah dan terencana. Di
mana dalam pelaksanaannya harus mengikuti arah jaman yang semakin bersaing dan
semakin modern. Untuk itu, perlu adanya pembagian tugas ketatausahaan yang
jelas dan terprogram di setiap sekolah, serta adanya dukungan TIK yang memadai.
Administrasi sekolah dilaksanakan dengan tujuan
(1) Meningkatkan pelayanan administrasi sekolah (2) Pelayanan administrasi
sekolah yang efisien dan efektif (3) Administrasi sekolah yang teratur, terarah
dan terencana
Administrasi sekolah antara lain meliputi:
1. Administrasi persuratan dan
pengarsipan
2. Administrasi kepegawaian
3. Administrasi keuangan
4. Administrasi perlengkapan
/inventaris
5. Administrasi kesiswaan
6. Administrasi perpustakaan
7. Administrasi kurikulum
8. Administrasi pengelolaan
laboratorium
9. Administrasi program pembelajaran
Dari jenis-jenis administrasi
tersebut, berapa jenis administrasi di sekolah Anda yang telah diproses
dan didistribusikan dengan berbasis TIK? Untuk kebutuhan administrasi
sekolah, Anda tidak perlu harus selalu mengembangkan sendiri aplikasi yang
dibutuhkan. Saat ini banyak aplikasi administrasi sekolah yang dapat
dimanfaatkan baik yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional maupun
oleh pihak swasta.
2.
Kebutuhan TIK untuk Sistem Komunikasi Sekolah
Kata
komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris, berasal dari
perkataan Latin communis, communico atau communicare, yang
berarti sama atau membuat sama . Sejalan dengan pengertian tersebut,
beberapa ahli merumuskan definisi komunikasi, antara lain “ Komunikasi
adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan
(biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain. “
Suatu
komunikasi harus jelas, artinya apa yang diinformasikan oleh pengirim informasi
harus mempunyai arti dan makna yang sama, tidak boleh menyimpang atau
bertentangan dengan penerima pesan tersebut. Penyimpangan dan perbedaan makna
informasi menandakan adanya gangguan komunikasi yang sering disebut distorsi
komunikasi. Jadi dalam suatu komunikasi yang baik tidak akan terjadi
pertentangan informasi antara pengirim dan penerima informasi. Selain itu komunikasi yang disampaikan juga harus cepat dan tepat waktu. Sebagai
contoh informasi tentang hasil ulangan harian siswa akan tidak bermakna
bila disampaikan secara bersamaan pada akhir semester kepada orang tua
siswa. Sebaiknya informasi tersebut disampaikan segera setelah pelaksanaan
ulangan harian, sehingga menjadi bahan umpan balik bagi siswa, guru maupun
orang tua.
Dalam
penerapan organisasi, komunikasi dibedakan dalam dua macam, yaitu :
(1) komunikasi eksternal atau komunikasi sosial yaitu komunikasi yang dilakukan
organisasi atau anggota organisasi terhadap organisasi atau pihak luar
organisasi yang bersangkutan, dan (2) komunikasi internal, komunikasi yang
digunakan dalam lingkungan organisasi sendiri. Bila diadaptasikan dalam
konteks sekolah maka komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua siswa, ,
tokoh masyarakat, ataupun dengan dunia industri sebagai mitra dalam
pembelajaran dapat dikategorikan sebagai komunikasi eksternal. Sedangkan
komunikasi antara kepala sekolah, guru, tenaga administrasi dan siswa dapat
dikategorikan sebagai komunikasi internal.
Dalam sistem
komunikasi di sekolah baik komunikasi internal maupun komunikasi eksternal
harus disampaiakan secara akurat, tepat dan cepat. Sebagai contoh undangan
untuk pengurus komite sekolah akan lebih baik bila disampaikan sesegera
mungkin, agar pengurus komite sekolah dapat menjadwalkan waktunya. Begitu
juga informasi tentang libur sekolah, kemajuan belajar siswa dan
informasi lainnya harus disampaikan secara akurat, cepat dan tepat.
Bagaiamanakah
sistem komunikasi yang dibangun di sekolah Anda? Apakah informasi yang
disampaikan oleh sekolah kepada siswa, guru atau orangtua murid sudah
menggunakan media TIK? Ataukah lebih banyak dilakukan secara tatap muka padahal
bisa dilakukan dengan TIK? Sudahkan informasi disampaikan secara akurat, cepat, tepat dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu?
Semua itu akan memungkinkan bila difasilitasi dengan media komunikasi berbasis
TIK.
3.
Kebutuhan TIK untuk Pembelajaran
Ketika kita
berbicara tentang TIK untuk pembelajaran, maka termasuk pula di dalamnya media
audio, televisi, film, VCD/DVD Pembelajaran, dan media internet.
Keunggulan
Media Audio bila digunakan dalam pebelajaran antara lain media audio sangat
cocok untuk pelajaran bahasa, dapat diulang dengan mudah, sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran, dapat meningkatkan kemampuan imajinasi siswa, melatih siswa
untuk menjadi pendengar yang baik. Namun demikian media audio juga memiliki
kekurangan antara lain pesan yang disampaikan bersifat abstrak, dan kurang
dapat menjelaskan detail, untuk menghasilkan suara yang bagus, perlu direkam di
ruang khusus”kedap suara”.
Prinsip-Prinsip
Penggunaan Media Audio adalah sebaia berikut (1)sebelum digunakan di kelas
sebaiknya guru mencoba terlebih dahulu di rumah, sehingga guru memahami betul
isi program yang akan disajikan, (2) sebelum diperdengarkan, sebaiknya guru harus
menjelaskan tentang poin-poin yang harus diperhatikan selama mendengarkan,
(3)yakinkan bahwa seluruh siswa dapat mendengar suara dari audio, (4) matikan
kaset, apabila siswa tampak tidak memperhatikan penjelasan dari audio, (5)
apabila ada materi yang kurang jelas, guru dapat mengulang bagian yang dianggap
kurang jelas, (6) penjelasan dari audio sebaiknya ditambah dengan penjelasan
guru, (7) setelah selesai mendengarkan, siswa dapat diberi tugas lanjutan,
misalnya praktek bercakap-cakap sesama teman.
Selain media audio, sarana TIK yang
sering juga digunakan dalam pembelajaran adalah media televisi. Pustekkom sejak
tahun 2004 telah mengembangkan saluran televisi yang mengkhususkan pada siaran
pendidikan yaitu TV edukasi (TVE). Keunggulan Media Televisi antara lain
(1)dapat digunakan setiap saat, sesuai dengan ketersediaan waktu siswa,
(2)dapat digunakan di sekolah, di rumah, di mana saja selama masih ada aliran
listrik dan penerima siaran televisi (3)dapat menampilkan seluruh unsur media
(gerakan, suara, dan animasi), (4) materi yang disiarkan umumnya
bersifat baru up to date. (5) dapat juga digunakan dalam pembelajaran
klasikal, dan (6) tidak perlu kemampuan khusus dalam mengoperasikannya.
Di samping keunggulan yang
dimilikinya, media televisi juga memiliki kekurangan antara lain (1) perlu
adanya aliran listrik, dan perangkat peneriam televisi, (2)sangat tergantung
pada jadwal siaran, (3) seringkali jadwal siaran tidak cocok dengan jadwal
pelajaran di sekolah, (4) tidak dapat distop/dihentikan siarannya (kalau
program VCD/Video bisa dihentikan dan dikendalikan pemanfaatannya)
Penggunaan media televisi
hendaknya menerapkan rinsip-prinsip penggunaan sebagai berikut : (1) sebelum
dimanfaatkan yakinkan tidak ada perubahan jadwal siaran, (2) beri arahan dan petunjuk
siswa tentang apa-apa yang perlu diperhatikan selama menonton televisi,
(3)hindari penggunaan televisi tanpa ditemani oleh guru.
Selain radio dan televisi, TIK yang
umum digunakan adalah internet. Keunggulan Media Internet bila digunakan dalam
pembelajaran antara lain
· Dapat
digunakan setiap saat, sesuai dengan ketersediaan waktu siswa
· Dapat
digunakan di sekolah, di rumah, di mana saja selama masih ada
koneksi internet
· Dapat
menampilkan seluruh unsur media (gerakan, suara, dan animasi)
· Materi
yang ada umumnya bersifat up date.
· Sangat
cocok untuk tindak lanjut pembelajaran dan tugas-tugas mandiri.
· Dapat
juga digunakan dalam pembelajaran klasikal.
Selain
memilki keunggulan, k ekurangan media Interner antara lain perlu adanya aliran
listrik, sarana komputer, dan akses internet serta perlu kemampuan khusus untuk
memanfaatkannya. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Internet
· Sebelum
dimanfaatkan secara klasikal, sebaiknya dipreview terlebih dahulu apa-apa yang
akan disajikan.
· Beri
arahan dan petunjuk siswa tentang cara mencari materi-materi yang cocok.
· Hindari
penggunaan internet tanpa penjelasan apa yang akan dicari oleh siswa.
Pemanfaatan
Internet sebagai media pembelajaran memungkinkan siswa untuk belajar
secara mandiri. Informasi yang diberikan server-computers itu dapat berasal
dari commercial businesses (.com), goverment services (.gov), nonprofit
organizations (.org), educational institutions (.edu) atau artistic and
cultural groups (.arts). Dengan menggunakan internet, siswa dapat berperan
sebagai seorang peneliti, menjadi seorang analis, tidak hanya konsumen
informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang relevan dengan pembelajaran.
Siswa dapat melakukan pencarian yang sesuai dengan kehidupan nyatanya (real
life). Siswa dan guru tidak perlu hadir secara fisik di kelas (classroom
meeting), karena siswa dapat mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas
pembelajaran serta ujian dengan cara mengakses jaringan komputer yang telah
ditetapkan secara online. Siswa juga dapat belajar bekerjasama (collaborative)
satu sama lain. Mereka dapat saling berkirim e-mail (electronic mail) untuk
mendiskusikan bahan ajar. Kemudian, selain mengerjakan tugas-tugas pembelajaran
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru siswa dapat
berkomunikasi dengan teman sekelasnya.
Berikut ini
hal-hal yang dapat difasilitasi oleh adanya Internet: Discovery
(penemuan), ini meliputi browsing dan pencarian informasi-informasi
tertentu. Communication (komunikasi), Internet menyediakan jaringan
komunikasi yang cepat dan murah dari mulai pesan-pesan yang berupa buletin
sampai dengan pertukaran komunikasi yang bersifat kompleks antar atau inter-organisasi.
Juga termasuk diantaranya transfer informasi (antar komputer) dan proses
informasi. Media komunikasi yang utama seperti e-mail, chat group (percakapan
secara berkelompok), dan newsgroup (gabungan kelompok yang bertukar berita).
Collaboration (kolaborasi), seiring dengan semakin meningkatnya komunikasi, dan
kolaborasi antar media elektronik baik itu antar individu maupun antar kelompok
maka beberapa fasilitas canggih dan modern pun mulai digunakan dari mulai
screen sharing sampai dengan teleconferencing. Kolaborasi juga meliputi
jasa/pelayanan resource-sharing (pertukaran sumber-sumber informasi), yang
menyediakan akses pada server-server yang sesuai dengan bidangnya
masing-masing.
1. Institusi ( SMA N 3 Sarolangun ),
dan peran Kepala Sekolah
Sebagai institusi sekolah mempunyai
mekanisme yang berbeda-beda dalam proses pembelanjaan anggaran disetiap
tahunnya. Banyak sekolah yang masih berfikir bahwa fasilitas yang terpenting
dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal jika sedikit demi sedikit
anggaran dipergunakan untuk pembelajaan infrastruktur I.C.T maka sebuah sekolah
akan mempunyai arah yang jelas dalam pengembangan I.C.T. Faktor penting lainya yang penulis
anggap mempunyai pengaruh dalam pengambilan kebijakan adalah pemahaman tentang
I.C.T yang dipunyai oleh kepala sekolah, serta latar belakang keilmuan yang
dimiliki nya . kepala sekolah seharusnya melakukan :
·
Penjelasan kepada seluruh guru mengenai keterampilan apa
yang harus dimiliki oleh siswa dalam menghadapi abad-21
·
Meningkat peran guru
T.I.K sebagai orang yang akan melatih guru-guru yang lain dalam penggunaan
teknologi.
·
Bentuk pelatihan yang bersifat TOT melalui in house training
dan sebagainya.
·
Dalam forum rapat, sempatkan adanya forum T.I.K, untuk
berbagi kisah sukses dalam penggunaan T.I.K
2.
Guru mata pelajaran
Dari hasil wawancara penulis ada
beberapa hal yang membuat guru mata pelajaran di SMA N 3 Sarolangun enggan
dalam menggunakan I.C.T.
a.
Saya harus menguasai teknologi dahulu baru kemudian
mengajarkan dan mengunakannya.
‘sebuah perkataan yang mungkin benar
tetapi lebih banyak tidak benarnya. Apa yang terjadi jika guru harus bisa
menguasai dahulu semua program dan baru menggunakannya dalam pembelajaran.
Tentu akan makan waktu dan energi luar biasa, ditambah lagi dengan sedemikian
cepatnya perkembangan teknologi jangan- jangan suatu program belum selesai
dikuasi telah datang program terbaru yang lebih canggih. Jadi dalam hal ini
guru dapat minta bantu dengan guru T.I.K atau akan lebih baik jika materi
pelajaran bisa berkolaborasi dengan materi T.I.K sehingga terbentuk Team
Teaching.
b.
Tidak merasakan adanya hubungan antara subyek yang diajarkan
dengan teknologi.
‘ guru masih berfikir bahwa urusan
teknologi adalah pekerjaan guru T.I.K.
Saya adalah guru Pkn apa
hubungannya dengan teknologi ? guru belum mau dan bisa mengintegrasikan content
knowledge dengan tekhnology knowledge dalam suatu pembelajaran.
c.
Guru khawatir tidak menjadi satu-satunya orang ‘ pintar ‘
dikelas.
‘ menggunakan teknologi berarti
membuat diri kita menjadi bukan satu-satunya orang paling pintar dikelas. Saat
menggunakan teknologi bisa jadi siswa kelihatan lebih pintar maklum mereka
memang generasi yang terlahir dengan teknologi.
3.
Guru T.I.K
Latar belakang keilmuan dari guru
T.I.K yang tidak sesuai tentu mempengaruhi akan pelaksanaa penerapan teknologi
di SMA N 3 Sarolangun, guru T.I.K yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam
membantu guru mata pelajaran untuk menguasai teknologi tidak dapat diharapkan
banyak, karena mereka sendiri sangat minim penguasaan teknologinya.
4.
Keberlangsungan dan pemeliharaan peralatan I.C.T
Untuk menjaga keberlangsungan dan
pemeliharaan peralatan sehingga dapat dipergunakan secara berkelanjutan, faktor
penting yang perlu diadakan adalah teknisi handal dan kompeten dalam bidang
teknologi, SMA N 3 Sarolangun belum memiliki teknisi yang dapat melakukan
perawatan dan pemeliharaan sehingga peralatan yang rusak tidak dapat
dipergunakan lagi.
4.
Solusi Pemecahannya
Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran di SMA N 3 Sarolangun. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah: a) penolakan/keengganan untuk berubah khususnya dari Kepala Sekolah dan guru; b) kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru); c) ketersedian fasilitas TIK; d) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan) keber- langsungan (sustainability) karena keterbatasan dana (Utomo:2008).
Beberapa hal berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan (Utomo:2008):
1. Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan
kebijakan untuk mengedepankan pengintegrasian TIK untuk pembelajaran. Misalnya
melalui pencanangan visi, misi, peraturan dan rencana induk/rencana strategis
sekolah ke depan.
2. e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa
guru panutan di sekolah me- nyadari penuh pentingnya peran TIK untuk
pembelajaran dan berupaya untuk terus mempelajari dan menerapkannya di sekolah.
3. Penyiapan
SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kom- petensi guru dalam
mengintegrasikan TIK ke dalam pembelajaran (termasuk berbagai strategi/metode
pembelajaran yang efektif). Bila perlu guru meng-
adopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Di samping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK untuk pembelajaran.
adopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Di samping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK untuk pembelajaran.
4. Penyiapan
fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar terjadinya belajar
berbasis aneka sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas seperti perpustakaan
(cetak dan non-cetak), komputer yang terhubung dengan LAN, koneksi internet,
VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang kelas.
e. Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri.
f. Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memelihara peralatan tersebut.
e. Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri.
f. Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memelihara peralatan tersebut.
BAB III
KESIMPULAN
Seiring dengan perkembangan zaman
yang modern dan perkembangan ICT yang begitu pesat, dunia pendidikan Indonesia
juga harus dapat mengikutinya agar tidak tertinggal dengan Negara-negara lain.
Penerapan ICT dalam proses pembelajaran merupakan langkah inovatif dalam dunia
pendidikan merupaka suatu langkah inovatif untuk mengatasi hal tersebut. Dengan
metode pembelajaran yang lebih modern diharapkan tujuan nasional pendidikan
dapat tercapai. Namun, masih banyak kendala-kendala yang dihapadi untuk
mewujudkan hal tersebut.
Kemampuan lembaga pendidikan baik
dari segi infrastruktur maupun keuangan yang kurang memadai, penguasaan ICT
oleh para guru, serta latar belakang peserta didik, menjadi masalah utama yang
perlu dicarikan solusinya secara bersama-sama agar penerapan ICT dalm dunia
pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana. Untuk
mewujudkan suatu pembelajaran yang inovatif berbasis ICT, peran serta sekolah,
guru, orang tua, dan bahkan juga komunitas di sekitar stakeholder lembaga
pendidikan sangatlah penting dan kesemuanya tersebut harus memiliki suatu mimpi
dan langkah nyata bersama agar dapat membuat generasi bangsa ini lebih maju dan
dapat bersaing dengan dunia global
Tidak ada komentar:
Posting Komentar