Sabtu, 14 Juli 2012

Analisis I.C.T di SMA N 3 SRL


DATA FASILITAS  ICT SMA N 3 SAROLANGUN TH.2010 S/D 2012
no
tahun
Nama peralatan
jumlah
Kondisi
Baik (jumlah)
Tidak baik(jumlah)
1.
2010
1.komputer
2. LCD
3.Note book
20 bh
5 bh
4 bh
 20 bh
5 bh
 4 bh
-
-
-
2.
2011
1.  Komputer
2.  LCD
3.  Note Book
20 bh
5 bh
4 bh
8 bh
3 bh
4 bh
12 bh
2 bh
-
3.
2012
1.    Komputer
2.  LCD
3.  Note Book
20 bh
5 bh
4 bh
6 bh
1 bh
3 bh
18 bh
4 bh
1 bh

DATA GURU YANG MENGGUNAKAN LCD DAN NOTE BOOK DALAM PEMBELAJARAN th.2010 s/d 2012
No
Tahun
Jumlah guru yang pernah menggunakan LCD
Jenis kegiatan
Keterangan
1.
2010
5 orang
Pbm

2.
2011
3 orang
Pbm

3.
2012
2 orang
Pbm



JENIS KEGIATAN YANG DILAKUKAN BERHUBUNGAN DENGAN I.C.T
No
Tahun
Jenis kegiatan
Tingkat
Waktu pelaksanaan
1.
2010
Workshop ICT
Sekolah
Mei  2010
2.
2011
-


3.
2012
-



GURU YANG MENGAJAR T.I.K
No
Tahun
Latar belakang pendidikan
Jumlah
Keterangan
1.
2010
Sarjana Komputer , Sarjana Komputer
2 orang

2.
2011
Sarjana Komputer,  Sarjana Matematika
2 orang

3.
2012
Sarjana Matematika, Sarjana Geografi
2 orang



.   Sasaran Program
Kepala Sekolah dan Para Guru serta dengan persetujuan Komite Sekolah menetapkan sasaran program,  baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Sasaran program dimaksudkan untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.
Sasaran Program Sekolah
SASARAN PROGRAM 1 TAHUN
 ( 2011 / 2012 )
(Program Jangka Pendek)
SASARAN PROGRAM 4 TAHUN
( 2011 / 2015 )
(Program Jangka Men
engah)
SASARAN PROGRAM 8 TAHUN
( 2011 / 2019 )
(Program Jangka Panjang)
1.        Kehadiran Peserta didik, Guru dan Karyawan lebih dari 95%.
1.     Kehadiran Peserta didik, Guru dan Karyawan lebih dari 97%.
1.   Kehadiran Peserta didik, Guru dan Karyawan lebih dari 98 %.
2.        Target pencapaian rata-rata Nilai Ujian Akhir  6,0.
2.     Target pencapaian rata-rata NUAN lulusan7,0.
2.   Target pencapaian rata-rata NUAN lulusan 8,0.
3.        10 % lulusan dapat diterima di PTN, baik melalui jalur PMDK maupun UMPTN.
3.     20 % lulusan dapat diterima di PTN baik melalui jalur PMDK maupun UMPTN.
3.   50 % lulusan dapat diterima di PTN baik melalui jalur PMDK maupun UMPTN.
4.        50% peserta didik yang beragama Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
4.     80% peserta didik yang beragama Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
4.   80% peserta didik yang beragama Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
5.        Memiliki ekstra kurikuler unggulan  (KIR & Olah Raga  )
5.     Extra kurikuler unggulan dapat menjuarai tingkat provinsi
5.   Ekstrakurikuler unggulan dapat meraih prestasi tinggkat nasional
6.        25 % peserta didik dapat aktif berbahasa Inggris.
6.     40  % peserta didik dapat aktif berbahasa Inggris.
6.   60  % peserta didik dapat aktif berbahasa Inggris.
7.        70 % peserta didik dapat mengoperasikan mengoperasikan program Ms Word dan Ms Excel
7.     75 % peserta didik dapat mengoperasikan 2 program komputer  (Microsoft Word , Excel, Power point dan Internet).
7.   100 % peserta didik dapat mengoperasikan 2 program komputer  (Microsoft Word, Excel, Power point dan Internet).











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3 berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Untukmencapai tujuan tersebut tidaklah mudah karena tantangan yang lebih besar dengan adanya arus globalisasi di segala bidang kehidupan. Globalisasi sebagai dampak dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengakibatkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang paling cepat dirasakan adalah perubahan ekonomi dan pengetahuan.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat digunakan dalam berbagai disiplin Ilmu, termasuk di dunia pendidikan. Perkembangan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan saat ini sudah tidak bisa ditawar lagi karena telah menyatu dengan perkembangan setiap aktivitas kehidupan, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Demikian halnya guru sebagai tenaga profesional, harus mampu mengimbangi laju perubahan tersebut. Sikap yang harus direfleksikan oleh guru di antaranya melalui apresiasi, inovasi, dan kreasi untuk memanfaatkan TIK seperti yang dinyatakan dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan kompetensi Guru. (sumber : Juknis dir.pendd menengah).

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dalam keterlaksanaan penerapan I.C.T di SMA N 3 Sarolangun, ditemukan bahwa pemanfaatan I.C.T (baik hardware maupun software) oleh guru  masih amat terbatas. I.C.T lebih banyak dimanfaatkan terbatas pada fungsi administratif. Pemanfaatannya sebagai media atau alat bantu pembelajaran,sumber belajar  dan penilaian masih belum tereksplorasi secara mendalam, apalagi pemanfaatan berbagai fasilitas dan aplikasi yang ada.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.    Apa masalah yang dihadapi dalam penerapan ICT di SMA N 3 Sarolangun.?
2.    Faktor – faktor apa yang mempengaruhi pemanfaatan  ( analisa kebutuhan ) ICT  di SMA N 3 Sarolangun.?
3.    Apa solusi yang dapat ditawarkan untuk memberdayakan ICT dalam meningkatkan kompetensi guru di SMA N 3 Sarolangun.?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Permasalahan yang dihadapi dalam penerapan I.C.T
Pada kenyataanya saat ini masih banyak ditemukan masalah- masalah ketika menerapkan ICT dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut berasal dari lembaga pendidikan yang bersangkutan, guru sebagai pendidik, dan siswa sebagai peserta didik. Permasalahan yang timbul dari lembaga pendidikan biasanya lebih dipengaruhi oleh factor-faktor seperti infrastruktur yang dimiliki dan sumber dana yang memadai sebagai factor utama agar lembaga pendidikan dapat menyelenggarakan pendidikan berbasis ICT. Kedua, guru sebagai pendidik tidak jarang menemui kesulitan dalam penguasaan ICT. Memang patut dimaklumi ketika para guru tersebut sekolah, pada saat itu ICT belum berkembang seperti sekarang  dan mereka pun tidak ada pelajaran ICT di sekolahnya. Sehingga tidak sedikit juga dari para guru tersebut yang kurang tertarik untuk mempelajari maupun menggunakan ICT dalam kegiatan belajar mengajar. Karena merasa tidak bisa dan malu sehingga tidak ada kemauan dan keinginan untuk belajar. Kejadian seperti ini biasanya terjadi kepada guru-guru senior. Selanjutnya, permasalahan yang timbul dari peserta didik biasanya berasal dari latarbelakang siswa itu sendiri. Seperti belum mengenal komputer, belum pernah menggunakan komputer dan internet. Kemudian,apabila suatu sekolah sudah menerapkan program dimana setiap siswa harus memiliki laptop ( dewasa ini laptop/notebook lebih sering digunakan sebagai media pembelajaran dikelas karena lebih efisien), terkadang bagi siswa yang ekonominya kurang, mereka belum bisa untuk memenuhi hal tersebut

B. Faktor-faktor yang mepengaruhi perkembangan I.C.T ( analisa kebutuhan )di SMA N 3 Sarolangun
1.      Kebutuhan TIK untuk Administrasi Sekolah
Administrasi sangat diperlukan bagi kelangsungan proses pembelajaran  di sekolah. Dalam era kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini, sekolah dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dan terbaik baik siswa, guru, orang tua maupun pemangku kepentingan pendidikan lainnya. Orang sering menganggap enteng persoalan administrasi tersebut, padahal kalau administrasi tidak didukung oleh pemanfaatan TIK dan tidak dikelola  oleh  orang-orang yang terampil maka administrasi tersebut akan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Orang yang memegang administrasi hendaknya adalah orang yang sudah terlatih dalam bidangnya (orang yang sudah mendapat ilmu/ pelatihan). Administrasi tidak hanya dalam hal keuangan saja tetapi juga dalam kerapian/keteraturan kita dalam pembukuan. Administrasi tidak hanya dilakukan dalam waktu tertentu saja tetapi setiap hari secara sistematis.
Keberhasilan pendidikan di sekolah harus ditunjang oleh pelayanan administrasi sekolah yang teratur, terarah dan terencana. Di mana dalam pelaksanaannya harus mengikuti arah jaman yang semakin bersaing dan semakin modern. Untuk itu, perlu adanya pembagian tugas ketatausahaan yang jelas dan terprogram di setiap sekolah, serta adanya dukungan TIK yang memadai.
Administrasi sekolah  dilaksanakan dengan tujuan (1) Meningkatkan pelayanan administrasi sekolah (2) Pelayanan administrasi sekolah yang efisien dan efektif (3) Administrasi sekolah yang teratur, terarah dan terencana
Administrasi sekolah antara lain  meliputi:
1. Administrasi persuratan dan pengarsipan
2. Administrasi kepegawaian
3. Administrasi keuangan
4. Administrasi perlengkapan /inventaris
5. Administrasi kesiswaan
6. Administrasi perpustakaan
7. Administrasi kurikulum
8. Administrasi pengelolaan laboratorium
9. Administrasi program pembelajaran
Dari jenis-jenis administrasi tersebut, berapa jenis administrasi di sekolah Anda yang  telah diproses dan didistribusikan  dengan berbasis TIK? Untuk kebutuhan administrasi sekolah, Anda tidak perlu harus selalu mengembangkan sendiri aplikasi yang dibutuhkan.  Saat ini banyak aplikasi administrasi sekolah yang dapat dimanfaatkan baik yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional maupun oleh pihak swasta.

2.      Kebutuhan TIK untuk Sistem Komunikasi Sekolah
Kata  komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris,  berasal dari perkataan Latin communis, communico atau communicare,   yang berarti sama atau membuat sama . Sejalan dengan pengertian  tersebut, beberapa ahli merumuskan definisi komunikasi, antara lain  “ Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain. “
Suatu komunikasi harus jelas, artinya apa yang diinformasikan oleh pengirim informasi harus mempunyai arti dan makna yang sama, tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan penerima pesan tersebut. Penyimpangan dan perbedaan makna informasi menandakan adanya gangguan komunikasi yang sering disebut distorsi komunikasi. Jadi dalam suatu komunikasi yang baik tidak akan terjadi pertentangan informasi antara pengirim dan penerima informasi. Selain itu komunikasi yang disampaikan juga harus cepat dan tepat waktu. Sebagai contoh informasi tentang hasil ulangan harian siswa akan tidak bermakna  bila disampaikan secara bersamaan pada akhir semester kepada orang tua siswa. Sebaiknya informasi tersebut disampaikan segera setelah pelaksanaan ulangan harian, sehingga menjadi bahan umpan balik bagi siswa, guru maupun orang tua.
Dalam penerapan organisasi,  komunikasi  dibedakan dalam dua macam, yaitu : (1) komunikasi eksternal atau komunikasi sosial yaitu komunikasi yang dilakukan organisasi atau anggota organisasi terhadap organisasi atau pihak luar organisasi yang bersangkutan, dan (2) komunikasi internal, komunikasi yang digunakan dalam lingkungan organisasi sendiri.  Bila diadaptasikan dalam konteks sekolah maka komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua siswa, , tokoh masyarakat, ataupun dengan dunia industri sebagai mitra dalam pembelajaran  dapat dikategorikan sebagai komunikasi eksternal. Sedangkan komunikasi antara kepala sekolah, guru, tenaga administrasi dan siswa dapat dikategorikan sebagai komunikasi internal.
Dalam sistem komunikasi di sekolah baik komunikasi internal maupun komunikasi eksternal harus disampaiakan secara akurat, tepat dan cepat. Sebagai contoh undangan untuk pengurus komite sekolah akan lebih baik bila disampaikan sesegera mungkin, agar pengurus komite sekolah dapat menjadwalkan waktunya. Begitu juga  informasi tentang libur sekolah, kemajuan belajar siswa dan informasi lainnya harus disampaikan secara akurat, cepat dan tepat.
Bagaiamanakah sistem komunikasi yang dibangun di sekolah Anda? Apakah informasi yang disampaikan oleh sekolah kepada siswa, guru atau orangtua murid sudah menggunakan media TIK? Ataukah lebih banyak dilakukan secara tatap muka padahal bisa dilakukan dengan TIK? Sudahkan informasi disampaikan secara akurat, cepat, tepat dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu? Semua itu akan memungkinkan bila difasilitasi dengan media komunikasi berbasis TIK.
3.      Kebutuhan TIK untuk Pembelajaran
Ketika kita berbicara tentang TIK untuk pembelajaran, maka termasuk pula di dalamnya media audio, televisi, film, VCD/DVD Pembelajaran, dan media internet.
Keunggulan Media Audio bila digunakan dalam pebelajaran antara lain media audio sangat cocok untuk pelajaran bahasa, dapat diulang dengan mudah, sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, dapat meningkatkan kemampuan imajinasi siswa, melatih siswa untuk menjadi pendengar yang baik. Namun demikian media audio juga memiliki kekurangan antara lain pesan yang disampaikan bersifat abstrak, dan kurang dapat menjelaskan detail, untuk menghasilkan suara yang bagus, perlu direkam di ruang khusus”kedap suara”.
Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Audio adalah sebaia berikut (1)sebelum digunakan di kelas sebaiknya guru mencoba terlebih dahulu di rumah, sehingga guru memahami betul isi program yang akan disajikan, (2) sebelum diperdengarkan, sebaiknya guru harus menjelaskan tentang poin-poin yang harus diperhatikan selama mendengarkan, (3)yakinkan bahwa seluruh siswa dapat mendengar suara dari audio, (4) matikan kaset, apabila siswa tampak tidak memperhatikan penjelasan dari audio, (5) apabila ada materi yang kurang jelas, guru dapat mengulang bagian yang dianggap kurang jelas, (6) penjelasan dari audio sebaiknya ditambah dengan penjelasan guru, (7) setelah selesai mendengarkan, siswa dapat diberi tugas lanjutan, misalnya praktek bercakap-cakap sesama teman.
Selain media audio, sarana TIK yang sering juga digunakan dalam pembelajaran adalah media televisi. Pustekkom sejak tahun 2004 telah mengembangkan saluran televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan yaitu TV edukasi (TVE). Keunggulan Media Televisi antara lain (1)dapat digunakan setiap saat, sesuai dengan ketersediaan waktu siswa, (2)dapat digunakan di sekolah, di rumah, di mana saja selama masih ada aliran listrik dan penerima siaran televisi (3)dapat menampilkan seluruh unsur media (gerakan, suara, dan animasi), (4) materi yang  disiarkan  umumnya bersifat baru up to date. (5) dapat juga digunakan dalam pembelajaran klasikal, dan (6) tidak perlu kemampuan khusus dalam mengoperasikannya.
Di samping keunggulan yang dimilikinya, media televisi juga memiliki kekurangan antara lain (1) perlu adanya aliran listrik, dan perangkat peneriam televisi, (2)sangat tergantung pada jadwal siaran, (3) seringkali jadwal siaran tidak cocok dengan jadwal pelajaran di sekolah, (4) tidak dapat distop/dihentikan siarannya (kalau program VCD/Video bisa dihentikan dan dikendalikan pemanfaatannya)
Penggunaan media  televisi hendaknya menerapkan rinsip-prinsip penggunaan sebagai berikut : (1) sebelum dimanfaatkan yakinkan tidak ada perubahan jadwal siaran, (2) beri arahan dan petunjuk siswa tentang apa-apa yang perlu diperhatikan selama menonton televisi, (3)hindari penggunaan televisi tanpa ditemani oleh guru.
Selain radio dan televisi, TIK yang umum digunakan adalah internet. Keunggulan Media Internet bila digunakan dalam pembelajaran antara lain
·  Dapat digunakan setiap saat, sesuai dengan ketersediaan waktu siswa
·  Dapat digunakan di sekolah, di rumah, di mana saja selama masih ada koneksi     internet
·  Dapat menampilkan seluruh unsur media (gerakan, suara, dan animasi)
·  Materi yang ada umumnya bersifat up date.
·  Sangat cocok untuk tindak lanjut pembelajaran dan tugas-tugas mandiri.
·  Dapat juga digunakan dalam pembelajaran klasikal.
Selain memilki keunggulan, k ekurangan media Interner antara lain perlu adanya aliran listrik, sarana komputer, dan akses internet serta perlu kemampuan khusus untuk memanfaatkannya. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Internet
·  Sebelum dimanfaatkan secara klasikal, sebaiknya dipreview terlebih dahulu apa-apa yang akan disajikan.
·  Beri arahan dan petunjuk siswa tentang cara mencari materi-materi yang cocok.
·  Hindari penggunaan internet tanpa penjelasan apa yang akan dicari oleh siswa.
Pemanfaatan Internet sebagai media pembelajaran memungkinkan  siswa untuk belajar secara mandiri. Informasi yang diberikan server-computers itu dapat berasal dari commercial businesses (.com), goverment services (.gov), nonprofit organizations (.org), educational institutions (.edu) atau artistic and cultural groups (.arts). Dengan menggunakan internet, siswa dapat berperan sebagai seorang peneliti, menjadi seorang analis, tidak hanya konsumen informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang relevan dengan pembelajaran. Siswa dapat melakukan pencarian yang sesuai dengan kehidupan nyatanya (real life). Siswa dan guru tidak perlu hadir secara fisik di kelas (classroom meeting), karena siswa dapat mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran serta ujian dengan cara mengakses jaringan komputer yang telah ditetapkan secara online. Siswa juga dapat belajar bekerjasama (collaborative) satu sama lain. Mereka dapat saling berkirim e-mail (electronic mail) untuk mendiskusikan bahan ajar. Kemudian, selain mengerjakan tugas-tugas pembelajaran dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru siswa dapat berkomunikasi dengan teman sekelasnya.
Berikut ini hal-hal yang dapat difasilitasi oleh adanya Internet: Discovery (penemuan), ini meliputi browsing dan pencarian informasi-informasi tertentu. Communication (komunikasi), Internet menyediakan jaringan komunikasi yang cepat dan murah dari mulai pesan-pesan yang berupa buletin sampai dengan pertukaran komunikasi yang bersifat kompleks antar atau inter-organisasi. Juga termasuk diantaranya transfer informasi (antar komputer) dan proses informasi. Media komunikasi yang utama seperti e-mail, chat group (percakapan secara berkelompok), dan newsgroup (gabungan kelompok yang bertukar berita). Collaboration (kolaborasi), seiring dengan semakin meningkatnya komunikasi, dan kolaborasi antar media elektronik baik itu antar individu maupun antar kelompok maka beberapa fasilitas canggih dan modern pun mulai digunakan dari mulai screen sharing sampai dengan teleconferencing. Kolaborasi juga meliputi jasa/pelayanan resource-sharing (pertukaran sumber-sumber informasi), yang menyediakan akses pada server-server yang sesuai dengan bidangnya masing-masing.
  

1.      Institusi ( SMA N 3 Sarolangun ), dan peran Kepala Sekolah
Sebagai institusi sekolah mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam proses pembelanjaan anggaran disetiap tahunnya. Banyak sekolah yang masih berfikir bahwa fasilitas yang terpenting dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal jika sedikit demi sedikit anggaran dipergunakan untuk pembelajaan infrastruktur I.C.T maka sebuah sekolah akan mempunyai arah yang jelas dalam pengembangan  I.C.T. Faktor penting lainya yang penulis anggap mempunyai pengaruh dalam pengambilan kebijakan adalah pemahaman tentang I.C.T yang dipunyai oleh kepala sekolah, serta latar belakang keilmuan yang dimiliki nya . kepala sekolah seharusnya melakukan :
·         Penjelasan kepada seluruh guru mengenai keterampilan apa yang harus dimiliki oleh siswa dalam menghadapi abad-21
·         Meningkat peran  guru T.I.K sebagai orang yang akan melatih guru-guru yang lain dalam penggunaan teknologi.
·         Bentuk pelatihan yang bersifat TOT melalui in house training dan sebagainya.
·         Dalam forum rapat, sempatkan adanya forum T.I.K, untuk berbagi kisah sukses dalam penggunaan T.I.K
2.      Guru mata pelajaran 
Dari hasil wawancara penulis ada beberapa hal yang membuat guru mata pelajaran di SMA N 3 Sarolangun enggan dalam menggunakan I.C.T.
a.       Saya harus menguasai teknologi dahulu baru kemudian mengajarkan dan mengunakannya.
‘sebuah perkataan yang mungkin benar tetapi lebih banyak tidak benarnya. Apa yang terjadi jika guru harus bisa menguasai dahulu semua program dan baru menggunakannya dalam pembelajaran. Tentu akan makan waktu dan energi luar biasa, ditambah lagi dengan sedemikian cepatnya perkembangan teknologi jangan- jangan suatu program belum selesai dikuasi telah datang program terbaru yang lebih canggih. Jadi dalam hal ini guru dapat minta bantu dengan guru T.I.K atau akan lebih baik jika materi pelajaran bisa berkolaborasi dengan materi T.I.K sehingga terbentuk Team Teaching.
b.      Tidak merasakan adanya hubungan antara subyek yang diajarkan dengan teknologi.
‘ guru masih berfikir bahwa urusan teknologi adalah pekerjaan guru T.I.K.  Saya  adalah guru Pkn apa hubungannya dengan teknologi ? guru belum mau dan bisa mengintegrasikan content knowledge dengan tekhnology knowledge dalam suatu pembelajaran.
c.       Guru khawatir tidak menjadi satu-satunya orang ‘ pintar ‘ dikelas.
‘ menggunakan teknologi berarti membuat diri kita menjadi bukan satu-satunya orang paling pintar dikelas. Saat menggunakan teknologi bisa jadi siswa kelihatan lebih pintar maklum mereka memang generasi yang terlahir dengan teknologi.
3.      Guru T.I.K
Latar belakang keilmuan dari guru T.I.K yang tidak sesuai tentu mempengaruhi akan pelaksanaa penerapan teknologi di SMA N 3 Sarolangun, guru T.I.K yang seharusnya menjadi ujung tombak dalam membantu guru mata pelajaran untuk menguasai teknologi tidak dapat diharapkan banyak, karena mereka sendiri sangat minim penguasaan teknologinya.
4.      Keberlangsungan dan pemeliharaan peralatan I.C.T
Untuk menjaga keberlangsungan dan pemeliharaan peralatan sehingga dapat dipergunakan secara berkelanjutan, faktor penting yang perlu diadakan adalah teknisi handal dan kompeten dalam bidang teknologi, SMA N 3 Sarolangun belum memiliki teknisi yang dapat melakukan perawatan dan pemeliharaan sehingga peralatan yang rusak tidak dapat dipergunakan lagi.
4.       Solusi  Pemecahannya

Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran
di SMA N 3 Sarolangun. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah: a) penolakan/keengganan untuk berubah khususnya dari Kepala Sekolah dan guru; b) kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru); c) ketersedian fasilitas TIK; d) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan) keber- langsungan (sustainability) karena keterbatasan dana (Utomo:2008).
Beberapa hal berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan (Utomo:2008):
1.     Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengedepankan pengintegrasian TIK untuk pembelajaran. Misalnya melalui pencanangan visi, misi, peraturan dan rencana induk/rencana strategis sekolah ke depan.
2.     e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa guru panutan di sekolah me- nyadari penuh pentingnya peran TIK untuk pembelajaran dan berupaya untuk terus mempelajari dan menerapkannya di sekolah.
3.    Penyiapan SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kom- petensi guru dalam mengintegrasikan TIK ke dalam pembelajaran (termasuk berbagai strategi/metode pembelajaran yang efektif). Bila perlu guru meng-
adopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Di samping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK untuk pembelajaran.
4.    Penyiapan fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar terjadinya belajar berbasis aneka sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas seperti perpustakaan (cetak dan non-cetak), komputer yang terhubung dengan LAN, koneksi internet, VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang kelas.
e. Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri.
f. Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memelihara peralatan tersebut.

BAB III
KESIMPULAN
Seiring dengan perkembangan zaman yang modern dan perkembangan ICT yang begitu pesat, dunia pendidikan Indonesia juga harus dapat mengikutinya agar tidak tertinggal dengan Negara-negara lain. Penerapan ICT dalam proses pembelajaran merupakan langkah inovatif dalam dunia pendidikan merupaka suatu langkah inovatif untuk mengatasi hal tersebut. Dengan metode pembelajaran yang lebih modern diharapkan tujuan nasional pendidikan dapat tercapai. Namun, masih banyak kendala-kendala yang dihapadi untuk mewujudkan hal tersebut.
Kemampuan lembaga pendidikan baik dari segi infrastruktur maupun keuangan yang kurang memadai, penguasaan ICT oleh para guru, serta latar belakang peserta didik, menjadi masalah utama yang perlu dicarikan solusinya secara bersama-sama agar penerapan ICT dalm dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana. Untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang inovatif berbasis ICT, peran serta sekolah, guru, orang tua, dan bahkan juga komunitas di sekitar stakeholder lembaga pendidikan sangatlah penting dan kesemuanya tersebut harus memiliki suatu mimpi dan langkah nyata bersama agar dapat membuat generasi bangsa ini lebih maju dan dapat bersaing dengan dunia global


Tidak ada komentar:

Posting Komentar